Wednesday, May 23, 2007

MS 8006 : Ichiban

Apa itu MS 8006?
Economics of manufacturing. PE HSS. Non examinable. Yeah!

Pelajaran ini basically persis seperti Teknik Industri. Tapi kami hanya belajar at a glance, ceteknya saja. Di sini kami mempelajari bagaimana cara mengefisienkan suatu proses produksi dengan konsep lean. Gampangnya, cut waktu pekerja untuk kongkow2, bikin MILO, ngrokok, pedekate dan tidur siang produksi yang tidak perlu , padatkan lead time produksi, perbanyak volume, dan percepat cash turnover. Jowone, gek ndang cepet etuk duit.

Karena subject ini non examinable, yang ada hanyalah project. And project means team.
Silakan membayangkan bentuk2 temen project saya. Yang jelas aku merasa di tengah-tengah anggota boyband!! Yeah! semuanya laki-laki.
Tidak hanya 3 atau 4, tapi 6 guys.
Have I mentioned six? Yes, that's number after five.

Apa yang melatarbelakanginya?
Sebenarnya banyak anak Indo yang ambil subject ini. Lantas kenapa saya tidak memilih mereka? Yang ada mah kenapa mereka tidak memilih saya huhuhu...sob
1. Yang jelas, saya adalah golongan terasing dalam LT waktu itu. Saya satu2nya anak business dari Indo, sementara yang lain adalah anak2 engineering yang sudah janjian untuk bareng2 ngambil subject ini. Dan karena mereka sudah even, saya lebih baik mundur.
2. Main ama anak Indo, kumpul ama anak Indo, saur ama anak Indo, organisasi ama anak Indo, masa project ama anak Indo juga? Wah bedol desa itu namanya.
3. Studying in Singapore gives more exposure towards cultural differences. Working with vibrantly different people with different backgrounds is a challenge. Rasanya seneng loh bisa bertukar banyak pengalaman dengan mereka. I have ever worked with 4 Indian guys. Then why not with 6 Chinese Singaporean guys?
4. Overall, guys are easier than girls. My marketing team was all girls. And I found it easier to work with guys. They are more easy going and they respect me as the only girl in team. And that means yahoo! smoother coordination.
5. Humm...Indo are my friends. I dun want if something bad happens during the work affecting our friendship. I guess that's another dominant reason.

Dan jadilah! My team : I C H I B A N
The team consists of me, Zhi Wei, Zhi Cheng, Jason, Li Xing, Edwin, and Ronald.
Attendance complete!
Do you know that several minutes ago I had to access the Photo gallery in edveNTUre,searching the names, matching 'em with the faces, make sure I dun make any mistakes? lol...
Karna memang selama ini aku cuma hapal Jason dan Edwin. Selain karena kita bertiga memang yang paling cerewet di tim, nama mereka western. Edwin is an accountancy student, so we share a lot of things during the break time. He's really nice to chat with, honestly!

Dan pagi ini kami akan bertualang di Tiong Bahru wet market, berinteraksi dengan aunti2 dan menganalisa cara kerja mereka. Yeah!! I'm coming guys!!!

Saturday, May 19, 2007

Masa Kecil

"Ah, MKKB loe!!!"

Apa itu MKKB? setauku sih Masa Kecil Kurang Bahagia. Entah kalo ada singkatan lain.

Yang jelas, alhamdulillah masa kecilku sendiri penuh kebahagiaan (ayayayy). Walau bapak bilang waktu bayi aku dulu item, jelek idup lagi, aku tetap bersyukur aku bisa dilahirkan ke dunia ini dan mengecap nikmatnya asam garam hidup (ceilahh)

Mengenang beberapa detail usang yang aku temukan di beberapa sudut lobus otakku membuatku sering tersenyum sendiri. Sungguh polos, khas anak yang masih kecil, yang masih percaya kalau kancil benar2 bisa bicara dan benar2 ada istana di ujung pelangi.

Apalagi kalau ingat cita-citaku waktu itu..

"Dek Gita kalo gede mau jadi apa sayang?"

Dan aku sama sekali tidak setuju dengan Susan yang berkoar2 ingin menjadi doktel atau insinyul di setiap lagunya

"Atu....atu mau jadi....Putli Indonesya!"

Ngimpi!!!! Wong muka aja pas-pasan kok mau jadi Putri Indonesia. Ngaca dulu sana!
Dan impian itu memang tidak akan pernah terwujud sampa kapanpun....sigh....kenyataan memang kadang pahit...

Dan waktu TK pun aku mengalami krisis seperti anak2 seumurku.
Bukan. Bukan hatsu koi. Tapi krisis kepribadian.

"Aku nggak mau punya nama Gita. Apa itu? jelek. Gita. Gita. Gito. Gito Rollies. huaaaaaa..."

Padahal pada setiap tugas yang diberikan Ibu Guru, setiap anak diharuskan untuk menulis namanya di nomor terakhir. Mungkin tujuannya baik, agar setiap anak tahu bagaimana cara menulis namanya sendiri. Tapi aku paling benci. Aku nggak mau nulis Gita Arimanda. "Nama apa itu?", pikirku dulu.

Ibu Guru : "Loh...ini kertas siapa ya? Kok namanya Intan Permata Mutiara?"
Telunjuk kecilku pun terangkat di udara.

Bagiku dulu semua jenis perhiasan : intan, mutiara, permata, zamrud, ruby, bahkan emas, dan perak pun terdengar sangat keren untuk dijadikan nama.
Lagipula ini gara2 temen2 sering meledekku dengan panggilan Gito Rollies.
Gito Rollies yang kukenal waktu itu kan laki2 (sudah jelas), dah om2, tua, kribo, tatoan, rocker.
Padahal idolaku waktu itu Cinderella dan Putri Salju...

Majalah nama2 bayi waktu mama masih mengandungku pun masih ada, dengan sebuah nama yang distabilo hijau di salah satu halamannya ...

Gita = lagu, himne, kidung

Rasanya terharu sekali ketika mama bercerita bagaimana senangnya aku dulu kalau disuruh maju Ibu Guru untuk menyanyi di depan kelas. Apalagi kalau ditunjuk pentas di RRI.
Kalau malam mama sering mengajakku bermain di taman samping rumah.

"Dan inilah dia, penyanyi kita....Gita Arimanda!"

Dengan kursi kecil sebagai panggung dan sisir di tanganku sebagai mikrofonnya, aku dengan semangat bernyanyi. Bukan bernyanyi bintang kecil ataupun balon ada lima. Tapi Kucing Angora, lagu ciptaanku sendiri. Dengan lirik dan nada yang super ngawur aku tetap cuek. Gaya? sampai sudah kehabisan ide mau gaya kayak gimana lagi. Yang jelas sinar bulan malam2 itu menjadi lampu sorotku di atas panggung. Panggung yang hanya menjadi milikku sendiri...

Kenangan-kenangan waktu itu tetap hidup di dalam benakku. Walau usang ia tidak berdebu. Karena aku rajin mengelapnya setiap hari.

Aku bangga mama memberiku nama itu. Gita, lagu, kidung, himne...
Terima kasih Mama...

Namun... ketakutan terbesar penghuni blok 42 akhirnya datang jua ketika Gita Arimanda (BUS/1) diharuskan pindah ke blok itu. Apalagi untuk Harsa, teman satu kelasnya yang sekarang tinggal tepat satu lantai di bawahnya. Setiap hari ia harus memakai sumbat telinga karena ada suara2 gaib yang volumenya tidak tanggung-tanggung. Sepertinya Harsa harus pergi ke THT.



*Credit goes to :
Mama, yang selalu membesarkan hatiku. Engkau sungguh pahlawanku...
Teman2 SMA, yang dulu berteriak "turuuuun..turuuun" ketika prom. Sungguh kalian telah membuka mataku hahahahahaha...

Don't Sleep Away The Night

Another heart-melting song....

Tomorrow's near, never I felt this way
Tomorrow, how empty it'll be that day
It tastes a bitter, obvious to tears to dried
To know that you're my only light
I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
Oh, I love you

How many lonely days are there waiting for me
How many seasons will flow over me
'till the motions make my tears run dry
at the moments I should cry
for I love you, oh I need you
Oh, yes I do

Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worthwhile
It makes me so afraid

Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
The reason is still I love you

Friday, May 18, 2007

I Love You Honey

Buat Anda yang sudah punya pasangan mungkin biasa mengucapkan kalimat ini untuk pasangan Anda, baik secara langsung, lewat surat, email, comment di FS, maupun SMS.

Masalahnya adalah...

Kalo kalimat itu tidak sampai ke pasangan Anda

Pernah ada kejadian menghebohkan di rumah. Semua itu diawali dari kebiasaan rutin mama ngecek HP bapak.
Kenapa musti dicek? Nggak tau, dah kebiasaan aja, pengen tau rutinitas suami tercinta kali yeyy.

Ekspresi muka mama yang tadinya santai berubah menjadi kaku. Matanya tertumbuk pada sederet kalimat di layar handphone itu.
I love you honey
Mama mengatupkan gerahamnya, sungguh erat, giginya berkutat satu sama lain, seakan ingin mengunyah lidanya sendiri.

"Ma...ma..kenapa ma?"
Mama tidak menjawab.
HP dihempaskan begitu saja ke atas meja dan ia berbalik dengan penuh kemarahan. Mukanya telah berubah menjadi keunguan, persis seperti ketika kamu menahan kentut.

Ini pengkhianatan!!!
Pengkhianatan besar!!!
Aku tidak terima!!!

Cerita di atas telah dibumbui. Hanya 20% benar.

Yang jelas memang ada kalimat I love you honey di HP bapak. Istri mana yang tahan untuk tidak curiga dan berpikiran yang tidak-tidak??
Mama jadi dipenuhi dengan pikiran buruk. Satu demi satu benang merah ia coba rangkai.
Yang bapak akhir2 ini jadi keren lah, dandan euy
Yang mama ngeluh udah nggak secantik dulu lagi lah
Yang bapak ini
Yang bapak itu

Wuihhh...aku seakan bisa melihat aura kemarahan berwarna ungu menguar tubuh mama waktu itu. Tapi mama tidak langsung menghampiri bapak yang ada di kamar. Nggak tau kenapa

Gengsi mau konfirm?
Udah berumahtangga berapa belas taun gitu lohhh....gengsi masih mau dipiara??

Umm...mencoba untuk tidak bertindak dulu sebelum semuanya jelas?
Itu baru mungkin...

Setelah beberapa hari menit akhirnya mama memutuskan untuk kroscek ke bapak (fiuhh).

Tapi ternyata...

"Sumpah Demi Allah aku nggak nulis begitu2an!!", suara bapak membahana dari kamar.
Anjrotooo...pake sumpah2an segala

Aku tetap pasang kuping, mencoba mendengar barangkali saja ada suara isakan yang menyusul.

Detik demi detik berlalu, jarum panjang tiba di angka 1. Jam menunjukkan pukul 14.05.

Assalamualaikum...
Terdengar suara pintu dibuka.
Adekku yang masih SD baru saja pulang sekolah.

Jangan mendekat dulu dek, rumah sedang perang..., begitu harapku dalam hati.

Namun hal ini tidak dapat ditutupi. Dek Farah found out everything.
Sambil menahan air mata ia berkata...



Itu aku kok ma yang nulis...




Setengah menit kemudian, menyadari apa yang terjasi sebenarnya, suara tawa menggelegar terdengar di ruang keluarga (benar2 menggelegar, I mean it!!)


*Mama, Bapak, Dek Farah...miss you...

Thursday, May 17, 2007

Sebatang Rokok


Rokok. Topik ini berawal dari obrolan saya dengan seorang abang yang sering blunder (siapa ya??)

Kenapa musti rokok?

Di Singapore, sebungkus rokok harganya 10 dolar. What comes along with that 10 dolar? Bukan packaging yang menarik. Jujur, ngeri!!
Gambar2 yg ada di bungkusnya sungguh "menarik"(ini cuman berdasarkan pengamatan saya dari jauh ketika jajan di seven eleven, CMIIW) :





Singapur pancen edan tenan... orang2 yang mau ngrokok harusnya (secara naluri alamiah) takut sebelum nyoba. Lha wong foto2 di pack-nya aja njijiki gitu: orang mau mati, gigi dan gusi hancur, geger bolong.

Smoking can cause slow and painful death.
Rokoknya bilang gitu...

Secara nggak langsung govt kayak nyumpahin orang yang mau beli rokok, "Hayo! Masi berani beli juga? Ntar kamu bisa sekarat kayak gini tau nggak? Tau rasa kamu nanti! Nek mati mbuh lho ya...Pokokmen aku dah ngasi tau"

Packagingnya aja dah ngeri, apalagi kalo mau mengkalkulasikan harganya. Sungguh ajaib sekali...

Satu bungkus rokok sepuluh dolar.
Bisa buat makan dua hari...

Dua bungkus...
Kemarin kayaknya ada sepatu lucu di JP, cuman 21 rek, tinggal tambahin satu dolar ae...
Nek GNOTA satu anak SD nyumbange 22 dolar...tambahi dua dolar meneh

Lima bungkus..
Anjroto desu ne, buku OB kok mahal banget ya... Hampir 50 dolar huhu

Sepuluh bungkus...
Cepek? weleh

Sembilan belas bungkus...
Itu duit beasiswaku sebulan setelah dipotong hol...

Tiga puluh bungkus...
PP Singapore-Indo...

Perkalian matematika sungguh ajaib bukan?

Jujur, saya sangat bersyukur sekali di Singapore harga rokok mahal.
Sering teringat ayahanda tercinta di rumah. Mungkin bapak harus dibawa ke sini dulu, baru bisa berhenti ngerokok.

Bapakmu nggak berusaha berhenti git?

Oh sudah, puluhan kali mencoba. Tapi aku malah nggak tega. Bapak jadi gelisah, nggak bisa tidur, mulut rasanya asem. Truly pathetic.

Aku juga teringat beberapa teman SMAku, yang setelah lulus langsung pegang rokok laknat, averagely dua batang satu hari. Dan dengan gagahnya (entah iya atau tidak) memajang pose foto baru di FS mereka. Dengan kepulan asap tipis membumbung antara jari mereka. Nyala sebatang rokok.

And after all these things do you think you still wanna smoke?


If I were you...


If only I were you...







You know what I'll say

Saturday, May 12, 2007

What Friendster told me in this one week

Checking Friendster. Well, this has been my new habit, since I made a new account about a week ago. Maybe some of you may think deleting my previous account was a waste. Well...kinda true..but now I feel how it is like losing something that I really loved, and by then I have to live without it.

Living without FS for about one semester quite helped me, though. I could focus on my study, without having (or tempted) to check it regularly, whether somebody has added comments on my page, new messages, and stuff. That time, I felt really FS addicted (and slaved).

Yet, Reza's death, which shocked me quite badly, awoke me from the "dunno-how" of my friends' being and such a voice whispered to my ears "How pathetic you are!". By then, I realized how I missed my friends, the ones had been living with me for more than three years, caring me so much, giving me supports when I was down, cheered me up, made me laugh with their sometimes-crunchy jokes but I love it.

And now, having about 130 friends only in one week ( It was a hard work adding them, oh yes), gives me quite a surprise . Oh no...not only one, but many surprises.

One day, I checked my FS homepage and found out that my friend, call him Jo, has become a new couple, just the day before he added me I guess. With whom? Just to another friend, the girl I really know, and I never suspected that she would be Jo's girl. Well, that quite funny surprise drew a smile on my face. Hmm...fresh made love story, huh? :)

The other day, I found out another friend's page. Oww..nice...still with the old love story I knew in my high school. They're still lovebirds. But I never ever thought they would give that kind of romantic, yet kinda can-raise-my-eyebrow comments to each other. Why so? Hmm....I just can't imagine myself being one of them, typing "hi honey" or "miss u so much" on my guy's page. Those lovey-dovey words sounds a bit silly to my ears, only because they're widely exposed.

Another story, my oh-so-innocent friend I came to know about in one event, is now studying overseas. United States, everybody's dream. A model student, brilliantly smart, nice and friendly buddy, oh yes. He's been quite an inspiration to me. Another hardworker.

Another surprise, the one I knew as a nice guy now turns out to be someone I think I don't ever know. He's just so different, used to be my fave friend, well I admire his personality. But now I think I'm gonna change my mind, he's not the one I admired in the old days. He's changed.

Those surprises, both positive and negative things now open my eyes. People change, my friends change, and so does the world. And I realize I do too. Well....we have to actually. Everything has to change. It's just the matter of effort. Are we giving efforts to change to be BETTER? or are we losing the opportunities and time we have to be WORSE.

Oh my....What a scenario

Monday, May 7, 2007

Liburan Enak Nggak Sih?

Liburan panjang gini bener2 bikin mati kutu. Intersem pun nggak kerasa serunya. Belum mungkin. But still...masuk cuman dari hari senin sampe rabo, setiap session ada tiga jam. Cuman tiga jam. Selebihnya? bosen. Gini nih kalo g dapet2 part time, isinya malah cuman nge FS doang.

Jadi inget dua semester kemaren. Emang sih sering mabok, palagi kalo udah mendekati recess, semua bahan kayaknya numpuk. Yang ini lah itu lah. Paper anu lah project apa lah. Pun exam yang mnguras tenaga satu bulan lebih. Tapi ternyata dengan begitu muncul satu semangat tersendiri. Semangat hidup . Buktinya?

1. Merasa lebih berenergi, Kalo libur isinya tidur mulu.
2. "ya ampuuun belum ngerjain tutorial, mampus! tutornya kejem (econs). sejam di skim deh. " or
"OMG!!! mati!!! minggu dpan ada dua kuis!! stats ama econs pula!!!" or
" marketing edan2an tenan! masa setiap hari miting project online berjam2? Bikin muntah!"
dan dengan segala sesuatu yang bikin stres ini lah kita bisa menghargai waktu dengan sebaik2nya.
Mau tidur? tar dulu, delapan chapter masih belum tersentuh buat bahan kuis.
Mau nonton pelem? woy! kerjain tugas dulu neng!
Yah begitulah. Waktu jadi sangat berharga..
3. Masuk sekolah bikin kita belajar , yang dengan kata lain : MIKIR.
Entah kenapa otak jadi agak tumpul. G megang math satu tahun aja dah bikin bego, apalagi liburan nonton pelem mulu. Hampir semua pelem di \\punyadafi ama \\fareast abis ditonton. Buset dah
4. Kalo masuk skul banyak Challenge, yang membuat kita lebih bergairah.
Contohnya? oh banyak! Mulai dari tutor yang ngajak berantem sampe temen project yang kadang bikin keki. Menghadapi masalah akan mengasah intuisi kita.
5. Kuliah dan exam justru merupakan sumber inspirasi ngeblog. Buktinya? Produktivitas ngeblog kala exam justru meningkat, dibandingkan liburan yang bsa dibilang stagnant (pengalaman pribadi sih, entah buat yg lain)

Aku
yang lagi bosen nggak ada kerjaan

Thursday, May 3, 2007

A Tribute to Reza Arba Da Silva



Innalillahi wa inna ilaihi rajiun

Berita sore itu bagaikan petir di siang bolong. Reza telah berpulang ke Rahmatullah. I could hardly believe my eyes when seeing those online messages...

boed_rs : Reza Arba da Silva meninggal...
shinogaara : Reza Arba Da Silva, XII IPA 7, telah berpulang...
my_truefaith : Gitaa....Reza meninggal....huhuhu...aku nggak percaya....
arif_top_banget: iya Reza meninggal...

Penyebabnya? sakit. Sakit apa aku kurang tahu. Ada yang bilang leukimia, ada yang bilang gangguan peredaran darah, ada yang bilang keracunan.... I'm still waiting for confirmation.

Shocking, yes it was. Half recalling the memory of him...

He was a joyful boy, cheerful, the one who always created smiles on our faces. I wan't given chance to know him better as we were in different class. Yet, I know how much his peers love him. He was the key of joy in XII IPA 7. Without him, the class would never be that fun. Without him, it would have never been the same.

And now God has taken him back to His side, in a very, very young age.

He's studying in UNDIP, electronics major. Yes, he's smart. He is just a first year undergrad. He had just begun his life, the way to his future. God really has a plan, doesn't He? And this is one of His plan.

I took my high school yearbook out of the shelf. Recalling the memories as I went through the pages. And there it is..

Reza Arba Da Silva
Born 8 Desember 1988
... Jabatannya jadi Menteri Penghangat Kelas memang berjalan dengan baik. Kadang waktu kelas lagi suntuk dengerin guru, ni cowok sering nyeletuk sembarangan bikin sekelas tertawa...


Selamat jalan Reza. We wil always remember you in our heart...